IDUL FITRI ADALAH MANIVESTASI DARI PADA BULAN RAMADHAN


Abuyya Ahmad Suyuthi DahlanIDUL FITRI ADALAH MANIVESTASI DARI PADA BULAN RAMADHAN

Oleh: A. Suyuthi Dahlan

“Allaahu akbar, allaahu akbar, allaahu akbar, laailaaha illallaah, wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahilhamdu. Shadaqa  wa’dahu, wa nashara ’abdahu, wa a’azzajundahu, wa hazamal ahzaabu  wahdahu.”

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia. Sesudah kita melewati suasana bulan Ramadhan sebulan lamanya, maka pada hari ini kita memasuki suasana Idul Fitri 1430 H. Sesuai dengan apa yang  telah diisyaratkan Allah di dalam al-Qur’an surat al-Baqarah 183-187, mudah mudahan ibadah puasa yang kita laksanakan selama sebulan ini akan menghasilkan:

  • Ketaqwaan (la’alakum tattaquun)
  • Kecermatan diri dalam memperhitungkan waktu, langkah serta tindakan (ayyaamam ma’duudaat)
  • Wawasan Qurrani, meliputi:
  1. Ke-Tuhanan
  2. kemanusiaan
  3. keilmuan
  4. kemasyarakatan dan,
  5. keakheratan

Sebagaimana dinyatakan Allah di dalam QS. Al-alaq 1-5.

  • Ketekunan kita di dalam berdo’a. Dengan cara menumbuhkan kesadaran bahwa di dalam segala situasi dan kondisi, kita sebagai makhluk yang lemah ini memiliki kebutuhan yang sangat mutlak terhadap pertolongan Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-Fathir 15-17: “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.
  • Ketajaman mata kepala dan sekaligus kejelian mata hati sehingga kita dapat mengetahui kapan suatu pekerjaan itu boleh kita kerjakan dan kapan pekerjaan tersebut harus kita tinggalkan.

Allahu akbar, Allahhu akbar, Allahu akbar

Kaum muslimin dan muslimat yang dimulyakan Allah. Jika kewajiban mengerjakan ibadah puasa Ramadhan tersebut mempunyai tujuan seperti tersebut di atas, maka dalam suasana Idul Fitri saat ini dan seterusnya haruslah kita jadikan sebagai hari penerapan nilai-nilai ibadah puasa Ramadhan. Sehingga kesemuanya itu bisa dijadikan sebagai modal dasar untuk menghantarkan kita sebagai pribadi-pribadi muslim yang kembali pada kebenaran (al-‘Aa-idziin) sekaligus kita akan terdaftar sebagai orang-orang yang memperoleh kemenangan dan kebahagiaan (al-Faa-iziin).

Didalam QS. at-Taubah 111-112, dijelaskan bahwa kita sebagai seorang hamba Allah yang mendambakan kebahagiaan hakiki (al-Fauzul ‘Azhiim), kita harus tetap berusaha untuk secara terus menerus berjuang guna memerangi:

  1. Kebodohan
  2. Kemiskinan
  3. Keterbelakangan

Dengan landasan tetap menjaga dua dimensi (sisi) ajaran islam yang merupakan perwujudan kataatan dan kepatuhan manusia terhadap aturan-aturan yang telah digariskan oleh syari’at Islam. Kedua sisi tersebut adalah hablum minallaah (hubungan dengan Allah) dan hablum minan naas (hubungan dengan sesama manusia) QS. Ali Imron 112.

Senada dengan hal ini, Rasulullah SAW telah bersabda dalam hadistnya “ad-Diinu al-Mu-aamalah, mu-aamalatu ma’al khooliq wa mu-aamalatu ma’al makhluq”, yang artinya ”Agama itu adalah jalinan hubungan” artinya menjalin hubunngan baik dengan khalik (Allah) dan menjalin hubungan baik dengan makhluk.

Itulah sebabnya dalam rangka menyemarakkan suasana Idul Fitri, disamping kita sangat dianjurkan oleh Tuhan kita untuk memperbanyak mengumandangkan kalimat takbir dalam rangka mengagungkan asma Allah, sekaligus kita dianjurkan untuk saling berbagi suka dan duka dengan cara memberikan zakat, infaq dan shadaqah.

Dikalangan kita masyarakat Indonesia terdapat satu acara yang menarik untuk kita cermati, dimana biasa dikenal dengan istilah “Halal bi halal”, yang secara harfiah kata-kata halal bi halal tersebut memang merupakan bahasa Arab, akan tetapi bukan bahasa agama. Meskipun demikian, kalau kita telusuri secara mendasar bahwa di dalam ajaran agama Islam terdapat salah satu ajaran yang disebut dengan Istihlal (minta dihalalkan).

Hal ini sesuai dengan ucapan Nabi SAW: “Atadzaruuna manil muflish?” Apakah kalian tahu siapakah sebenarnya orang yang disebut dengan si bangkrut atau orang yang jatuh pailit itu? Sahabat menjawab: “orang yang pailit menurut pemahaman kita ya Rasul adalah mereka yang seluruh harta benda miliknya ludes.” Lalu Nabi bersabda: “bukan itu orang yang dinamakan si bangkrut itu, orang yang bangkrut ialah mereka yang telah menghadap Allah (meninggal dunia) sambil membawa pahala shalat, pahala puasa, pahala zakat dan pahala hajinya, akan tetapi pada waktu hidup di dunia ia suka sekali berbuat dzalim, mengganggu tetangga, merampas hak orang lain dan ia belum sempat minta kehalalannya, memperbaiki kesalahan, memohon keikhlasannya atau belum sempat berhalal bi halal.”

Sebagai salah satu upaya untuk membentengi diri kita masing-masing agar tidak menjadi orang-orang yang merugi di dunia dan di akhirat, maka perlu kita tumbuhkan pengertian secara mendasar bahwa salah satu diantara sebagian banyak tujuan-tujuan disyari’atkan puasa Ramadhan supaya kita memiliki sikap kepedulian sosial kepada sesama dan kasih sayang terutama dalam kondisi sekarang ini.

Berdasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW diatas, dengan segala kerendahan hati dan dari lubuk hati yang paling dalam mohon kema’afan dari seluruh jamaah. Dengan harapan semoga partisipasi dan dukungan para jamaah akan selalu mempunyai daya dorong yang kuat bagi kami semua untuk tetap melanjutkan perjuangan ini dengan satu harapan semoga Allah menerima pengabdian kita serta sekaligus memasukkan kita semua dalam golongan hamba-hamba-Nya yang kembali pada kebenaran dan juga kita semua memperoleh kemenangan serta kebahagiaan.

Ada sebuah peribahasa Arab yang mengatakan: “Laisal ‘iid liman labisal jadiid, innamal ‘iid liman kaana tho’atuhuu taziid”. Meskipun sebagai tanda kesyukuran seorang hamba kepada Tuhannya, kita perlu menggunakan pakaian yang rapi, bersih dan suci utamanya dalam melaksanakan ibadah khususnya sholat (QS. al-A’rof 31-32). Tetapi yag dikandung maksud dengan peribahasa Arab di atas adalah hakikat lebaran atau beridul fitri tidaklah harus ditandai dengan pakaian baru, perabot rumah tangga baru, mobil baru… istri baru dan segala sesuatu yang bersifat baru. Akan tetapi idul fitri adalah mereka yang mempunyai semangat dan upaya baru dalam rangka meningkatkan kualitas keimanan dan kedekatan kepada Allah setelah kita ditempa dengan bulan Ramadhan dan segala macam aktifitas dan rutinitasnya. Dan juga jangan ada lagi syak wasangka, saling curiga diantara kita. Perbanyaklah amal dan rasa kepedulian terhadap sesama. Itulah sebabnya setelah berakhirnya bulan Ramadhan kita memasuki bulan Syawwal yang secara kebahasaan bisa diartikan dengan bulan peningkatan.

Akhirnya marilah kita berdo’a Ya Allah, ya Tuhan kami, terimalah sholat kami, puasa kami, berdiri kami dan khusyu’ kami, juga pengabdian kami serta sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama sholat Dan jangan engkau tolak amal ibadah kami, wahai Tuhan penguasa alam, Tuhan sebagus-bagus penolong Dan berikanlah rahmat kepada makhluk yang terbaik nabi Muhammad SAW dan kepada semua keluarga serta para sahabatnya Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

Penulis: nurululum

kami adalah sebuah lembaga terpadu yang terdiri dari Pondok Pesantren, Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah yang berada di kota Malang tepatnya di Jl. Aipda Satsui Tubun 17 Rt. 02/03 Kelurahan Kebonsari Kecamatan Sukun Kota Malang 65149. Phone: (0341) 835281-803254. website: www.nurululum.sch.id email: nurul_ulum1967@yahoo.co.id. Bila anda ingin berbagi kebahagiaan silahkan menghubungi alamat di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s